Breaking News

Izura Dan Kekuatan Spritualnya

Image by Nanne Tiggelman from Pixabay


 Jendelakita.my.id - Izura adalah seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di kaki gunung. Sejak kecil, Izura berbeda dari anak-anak seusianya. Dia sering merasakan getaran aneh di sekitar tempat-tempat yang dilaluinya, mendengar suara-suara yang tak terdengar oleh orang lain, dan sesekali dapat melihat bayangan samar yang orang lain tak bisa lihat. Namun, Izura tidak pernah merasa takut, hanya penasaran. Ia sering bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia miliki?

Suatu sore, ketika matahari hampir terbenam dan langit berubah oranye, Izura duduk di tepi sungai kecil di dekat hutan. Saat sedang melempar batu ke air, ia mendengar suara lembut yang memanggil namanya.

“**Izura...**”

Ia terdiam. Suara itu terdengar jelas, tapi tidak ada seorang pun di sekitarnya. Jantungnya berdebar, tetapi bukan karena takut—melainkan rasa ingin tahu yang kuat.

“**Izura, datanglah ke pohon besar di tengah hutan. Kami menunggumu.**”

Izura berdiri. Dia tahu ada sesuatu yang berbeda di hutan itu, sesuatu yang telah memanggilnya selama bertahun-tahun, tapi dia tidak pernah tahu apa. Dengan langkah ringan, ia mulai berjalan menuju hutan.

Setelah beberapa menit berjalan, ia tiba di depan sebuah pohon besar, jauh lebih tua dan besar dibanding pohon lainnya di hutan itu. Akarnya menjalar kuat di tanah, sementara batangnya kokoh dan menjulang tinggi ke langit.

“**Kami tahu kau datang, Izura.**”

Izura menengadah, dan tiba-tiba muncul sosok perempuan tua berpakaian putih, dengan aura lembut yang menenangkan. Wajahnya penuh kedamaian, dan matanya bersinar lembut.

“**Siapa Anda?**” tanya Izura pelan, masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya.

“**Aku adalah Roh Penjaga Hutan ini, Izura. Sudah lama kami menantimu.**”

Izura terdiam, bingung. “**Menanti? Menanti apa? Aku hanya anak biasa.**”

Perempuan tua itu tersenyum. “**Tidak, Izura. Kau bukan anak biasa. Kau memiliki kekuatan yang tak dimiliki banyak orang. Kau bisa mendengar dan melihat kami, roh-roh yang menjaga alam ini. Kekuatanmu adalah karunia dari leluhurmu, dan sekarang saatnya kau belajar untuk menggunakannya.**”

Izura menelan ludah. “**Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak tahu harus melakukan apa...**”

“**Ikuti kata hatimu. Ketika kau merasakan sesuatu yang tidak biasa, jangan abaikan. Ketika angin berbisik di telingamu, dengarkan. Ketika air di sungai bergetar, pahami. Alam ini hidup, dan kau adalah bagian darinya.**”

Izura terdiam, lalu perlahan-lahan berkata, “**Jadi, aku bisa berbicara dengan alam?**”

Perempuan tua itu mengangguk. “**Bukan hanya berbicara, tapi kau juga bisa merasakan apa yang mereka rasakan, melihat apa yang mereka lihat. Alam akan melindungimu jika kau juga melindungi mereka.**”

Izura mulai merasakan sesuatu di dalam dirinya. Ada kehangatan yang menjalar dari dalam dadanya, seperti energi yang mengalir lembut, membuatnya merasa kuat, tetapi juga tenang.

“**Bagaimana jika aku salah menggunakan kekuatan ini? Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikannya?**” Izura bertanya, sedikit cemas.

“**Kau tidak akan sendiri. Kami, roh-roh penjaga alam, akan selalu bersamamu. Kau akan belajar seiring berjalannya waktu, dan kekuatan ini akan menjadi bagian dari dirimu. Hanya ingat satu hal, Izura—kekuatan ini bukan untuk dirimu sendiri, melainkan untuk melindungi keseimbangan alam dan semua makhluk di dalamnya.**”

Izura memandang pohon besar di depannya. Dalam diam, ia merasakan koneksi yang dalam dengan segala yang ada di sekitarnya—pohon, angin, air, bahkan tanah di bawah kakinya.

“**Aku akan mencoba,**” katanya dengan suara mantap.

Perempuan tua itu tersenyum hangat. “**Kami percaya padamu, Izura. Selamat datang di dunia yang sesungguhnya.**”

Sejak hari itu, kehidupan Izura berubah. Ia mulai belajar dari alam, mendengarkan bisikan angin, memahami isyarat air, dan merasakan energi kehidupan dari segala yang ada di sekitarnya. Ia menjadi penjaga desanya, menjaga harmoni antara manusia dan alam, sekaligus menjaga rahasia tentang kekuatan spiritual yang ia miliki.

“**Izura, lihatlah air sungai itu, apa yang kau rasakan?**” tanya seorang roh hutan pada suatu hari.

Izura menyentuh air dengan ujung jarinya. “**Airnya mulai hangat, ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin ada perubahan di hulu sungai. Kita harus melihatnya.**”

Roh itu mengangguk. “**Kau sudah semakin peka, Izura. Itulah yang membuatmu istimewa.**”

Izura tersenyum tipis, lalu bangkit dan melangkah menuju hulu sungai, diiringi oleh roh-roh penjaga yang selalu setia menemaninya.

**TAMAT**